Sobat MTB, Pernah nggak sih kalian nongkrong atau riding ngelewatin suatu tempat di Surabaya, ngelihat patung kuno, tapi cuma skip gitu aja tanpa tahu ceritanya? Nah, kali ini kita mau nge-spill hidden gem sejarah sekaligus bedah misteri dari salah satu icon paling legendaris di tengah – tengah kota Surabaya.
Coba deh, siapa yang sering ngopi atau sekadar lewat di sekitaran Taman Apsari (depan Gedung Grahadi)? Di sudut taman rindang itu, ada sebuah arca Buddha berukuran raksasa yang duduk anteng menatap jalanan. Orang Surabaya asli pasti udah hafal sama Arca Joko Dolog.

Banyak yang berfikir ini tuh cuma patung purbakala biasa atau peninggalan zaman animisme yang ditaruh buat hiasan taman kota. Padahal nih, kalau kalian tahu pengorbanan dan ambisi besar di balik pembuatan patung ini, dijamin bakal kagum! Yuk, kita bedah cerita epik ala Game of Thrones versi Jawa Timur di balik artefak batu raksasa ini!
1. Bukan Orang Biasa, Ini “Kembaran” Raja Paling Sakti! 
Banyak mitos lokal yang beredar ngomong kalau arca ini adalah anak muda (Joko) yang dikutuk jadi batu karena durhaka. Big no! Secara historis, patung ini dibuat pada tahun 1289 Masehi (zaman Kerajaan Singhasari) sebagai wujud penghormatan spiritual untuk Raja Kertanegara. Kertanegara ini bukan raja kaleng-kaleng, lho. Dia adalah raja terakhir sekaligus penguasa paling sukses dalam sejarah Singhasari. Bayangin aja, sosok raja besar yang gagah berwibawa, duduk bersila dengan balutan kain jarik kuno yang elegan, diabadikan dalam bentuk arca Mahasobhya (Buddha yang melambangkan ketenangan mutlak).
2. Pesan Rahasia di “Alas Duduk” Sang Raja 

Coba deh kapan-kapan kalau main ke sana dan perhatikan bagian alas duduk (lapik) arca ini. Di sekeliling alasnya, ada ukiran huruf Jawa Kuno yang melingkar penuh. Ukiran ini namanya Prasasti Wurare. Ini bukan mantra kutukan, melainkan dokumen politik rahasia! Isinya menceritakan tentang upaya seorang pendeta sakti bernama Bharada yang dulu membelah Pulau Jawa jadi dua kerajaan (Janggala dan Panjalu), dan bagaimana Raja Kertanegara punya ambisi besar menyatukan kembali kerajaan yang terpecah itu. Patung ini adalah simbol persatuan nusantara!

3. Asal Usul Nama “Joko Dolog”
Kalau ini patung Raja Kertanegara, terus kenapa namanya jadi Joko Dolog? Nah, ini adalah bukti kalau warga lokal zaman dulu itu memberikan banyak penyebutan dadakan! Kata “Joko” merujuk pada pemuda, sedangkan “Dolog” dalam bahasa Jawa kuno atau lokal sering diartikan sebagai kayu jati gelondongan yang tebal dan besar. Karena patung batu ini ukurannya raksasa, dan dulunya ditemukan tergeletak di tengah hutan layaknya batang kayu jati raksasa, warga akhirnya memanggilnya si “Joko Dolog”.
4. Aslinya Bukan “Warga” Surabaya! 

Fakta paling mengejutkan: Joko Dolog ini sebenarnya perantau! Arca ini aslinya bukan dibikin di Surabaya, melainkan ditemukan di Desa Kandangjati, Probolinggo (dekat sisa-sisa pusat Kerajaan Singhasari). Terus, kok bisa sampai Taman Apsari? Jadi, pada tahun 1827, seorang Residen Belanda bernama de Vogel merasa patung ini punya nilai seni tinggi dan akhirnya “menculik” (memindahkan) arca seberat puluhan ton ini ke Surabaya. Awalnya mau dibawa terus ke Belanda, tapi entah karena terlalu berat atau ada aura magis yang mencegah, arca ini akhirnya menetap selamanya di Taman Apsari sampai hari ini.

Jadi, kalau kapan-kapan kalau ngelewatin Taman Apsari, boleh deh sekali sekali dilihat detailnya. Karna Arca Joko Dolog adalah saksi bisu kejayaan masa lalu, simbol pemersatu bangsa, dan “sesepuh” yang udah ngelihat perkembangan Kota Surabaya dari zaman kuda gigit besi sampai zaman ojek online! Sobat MTB, coba dong absen! Siapa nih yang waktu zaman sekolah dulu pernah dihukum guru suruh ngapalin sejarah Joko Dolog, atau malah punya cerita mistis sampai kejadian lucu pas lagi nongkrong di Taman Apsari? mention kita di sosmednya kita ya!!
