HARGA TIKET PESAWAT MEROKET MENJELANG LIBUR LEBARAN

Written by on 1 June 2019

MTBFM.CO.ID – Jelang libur lebaran 2019, publik di hebohkan dengan fenomena mahalnya harga tiket pesawat yang naik hingga enam kali lipat. Di agen travel online bahkan terpampang tiket pesawat kelas bisnis hingga diatas Rp 20 jutaan.

Polana B. Pramesti, Direktur Jenderal Perhubungan Udara menegaskan telah meminta maskapai untuk mengingatkan dan menegur mitra penjual atau agen untuk tidak menampilkan harga yang tidak masuk akal karena penerbangan harus melalui beberapa kali transit.

“Jelang libur lebaran tahun ini, untuk rute-rute tertentu misalkan Bandung ke Medan atau Jakarta ke Makasar di platform layanan aplikasi penjualan tiket dari lima hingga enam kali lipat dari tariff normal,” jelas Polana.

Polana menambahkan, saat permintaan tiket pesawat mengalami puncak seperti musim liburan dan lebaran tahun ini, publik akan bingung dengan harga meroket. Akibatnya, kepercayaan terhadap pelayanan dalam industry penerbangan akan turun.

Sedangkan menurut Budi Karya Menteri Perhubungan, salah satu penyebab harga tiket pesawat mahal karena maskapai penerbangan masih enggan menurunkan harga tiket agar bisnisnya tetap berjalan baik.

“Masalahnya kan mereka upaya untuk membuat bisnis nya lebih baik, sehingga dia tidak melanggar UU karena dia sesuai dengan tarif batas atas,” kata Budi Karya.

Budi juga menjelaskan bahwa Kementerian Perhubungan sudah menerbitkan imbauan kepada maskapai penerbangan nasional untuk menurunkan harga. Namun imbauan itu tak dijalankan tiap maskapai.

“Saya kemarin sifatnya imbauan untuk menetapkan sub-harga (surprice) atau harga tertentu berjenjang. Tampaknya, imbauan itu tidak dipenuhi secara maksimal,” kata Menteri Budi.

( BERBAGAI SUMBER / WUL )

 

 


Reader's opinions

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


102,7 MTB FM

Ragam Hiburan dan Musik Inspiratif

Current track
TITLE
ARTIST

Background