ANTARA GULA JAWA DAN TRADISI MINUM TEH, APA FILOSOFINYA?

Written by on 10 July 2019

MTBFM.CO.ID – Orang Jawa memang tidak terlepas dengan gula. Bahkan dalam budaya Jawa kerap melagukan tembang dhandhanggula. Dhandhanggula secara etimologis dapat diberi makna ==> dhandhang = hitam, gula = legi atau manis. Melambangkan seseorang telah menemukan gula hitam atau manisnya madu kehidupan sebagai suami istri. Dhandhanggula yang berasal dari kata dhandhang dan gula yang berarti pengharapan akan yang manis.

Dalam masyarakat Jawa di kenal berbagai macam gula yang berkembang dan dipakai, karena hampir semua minuman yang mereka konsumsi menggunakan gula. Misalnya kunir asem, beras kencur, secang, es degan, es kopyor, sekoteng, dan bajigur.

Salah satu gula yang di gunakan untuk membuat teh manis dikenal merupakan Gula batu atau yang lebih di kenal dengan gula pasir yang dikristalkan. Hampir semua pabrik gula di Jawa Tengah dan Jawa Timur berbahan baku tebu. Dalam adat istiadat Jawa, tebu juga salah satu bahan makanan yang memilki fungsi vital.

Seperti yang sudah di jelaskan, bahwa gula yang merupakan salah satu bahan terpenting dalam pembuatan teh manis, memiliki begitu banyak filosofi dalam kebudayaan dan tradisi Jawa. Sehingga jika diinterpretasikan, teh manis merupakan sebuah perpaduan antara budaya global yang berasal dari budaya minum teh eropa pada masa kolonial. Sedangkan gula merupakan asli dari nusantara. Kebiasaan minum teh manis dapat dikatakan sebagai sebuah akulturasi budaya yang di adopsi sampai menjadi sebuah ciri masyarakat Jawa pada umumnya.

( src : BDJW / M )


Reader's opinions

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


102,7 MTB FM

Ragam Hiburan dan Musik Inspiratif

Current track
TITLE
ARTIST

Background