Halo Sobat MTB! Coba ngaku, siapa yang rutinitas tiap malam atau jam istirahat kantornya kayak gini: Perut udah keroncongan, niatnya mau pesen makan via ojek online. Kamu buka aplikasi, scrolling dari menu ayam geprek, seblak, rice bowl, sampai sate taichan.

Satu jam berlalu, perut makin perih, tapi kamu belum pesen apa-apa karena bingung milih! Ujung-ujungnya, karena udah saking capeknya mikir, kamu malah beli nasi goreng langganan depan gang yang itu-itu lagi. Atau versi lainnya: Buka Netflix niat nonton film baru, tapi cuma scrolling milih judul sampai akhirnya malah ketiduran!

Banyak yang ngira kebiasaan ini gara-gara kita ini plin-plan. Padahal, ada alasan ilmiah yang lebih mendalam soal kenapa makin banyak pilihan, kita malah makin pusing! Dalam dunia psikologi, fenomena ngeselin ini dikenal dengan nama The Paradox of Choice atau Choice Paralysis (Kelumpuhan Memilih).

Kok bisa otak kita malah nge-blank pas dikasih banyak opsi? Yuk, kita bedah fakta ilmiahnya!

Apa Itu Fenomena Paradox of Choice?

Logika kasarnya, makin banyak pilihan makanan atau film, harusnya kita makin seneng dong karena bisa milih yang paling pas. Tapi, otak manusia ternyata nggak didesain buat memproses informasi yang terlalu overload. Istilah ini dipopulerkan oleh psikolog asal Amerika Serikat, Barry Schwartz, dalam bukunya yang berjudul The Paradox of Choice: Why More Is Less. Menurut risetnya, ketika opsi yang tersedia terlalu berlimpah, otak kita justru akan mengalami stres kognitif. Alih-alih merasa bebas, banyaknya pilihan justru menciptakan kecemasan (anxiety) dan membuat kita lumpuh mengambil keputusan (choice paralysis).

Otak Kamu Kehabisan Baterai (Decision Fatiaku)

Sobat MTB harus tahu kalau setiap keputusan yang kamu buat—mulai dari milih baju di pagi hari, milih rute jalan ke kantor, sampai milih lauk makan siang—itu menguras “baterai” otakmu. Berdasarkan studi dari American Medical Association, kondisi kelelahan otak ini disebut Decision Fatiaku (Kelelahan Mengambil Keputusan). Semakin banyak keputusan yang kamu buat seharian, semakin turun kualitas keputusan yang kamu ambil selanjutnya. Makanya, pas jam makan siang atau malam hari, energi mentalmu udah habis. Saat dihadapkan pada 50 menu di aplikasi, otakmu “menyerah” dan akhirnya memilih jalan pintas paling aman: beli makanan yang udah pasti rasanya, atau malah nggak jadi beli sama sekali!

Sindrom Si ‘Paling Sempurna’ (Maximizer vs Satisficer)

Alasan lain kenapa kamu scrolling kelamaan adalah karena kamu takut nyesel. Kamu mikir, “Gimana kalau aku beli ayam geprek ini, tapi ternyata sate taichan yang tadi lebih enak?” Secara psikologis, orang yang selalu mencari pilihan paling sempurna di antara semua opsi disebut sebagai seorang Maximizer. Padahal, riset membuktikan bahwa orang yang lebih bahagia adalah seorang Satisficer—yaitu mereka yang langsung memilih begitu menemukan opsi yang memenuhi kriteria dasar mereka, tanpa memusingkan opsi lain yang mungkin “lebih baik”.

Nah, sama halnya dengan milih playlist lagu. Daripada pusing scrolling aplikasi musik berjam-jam nyari lagu yang pas buat nemenin mood kerja atau nongkrong, mending serahin aja sama ahlinya! Biar penyiar kita yang milihin lagu-lagu paling hits dan pas buat kamu. Tinggal duduk manis, nggak perlu pusing mikir, dan langsung stay tune di 102.7 MTB FM Surabaya ya!

What's your reaction?
24cool0bad0lol0sad

Add Your Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copyright © 2012 –  2026. All rights reserved.