KETUPAT, APA FILOSOFINYA?

Written by on 14 June 2019

MTBFM.CO.ID – Di bulan Syawal, orang Jawa mengenal tradisi lebaran ketupat. Biasanya, lebaran ketupat diadakan pada hari ketujuh setelah hari idul Fitri.

Menurut cerita rakyat, ketupat berasal dari masa hidup Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga memperkenalkan ketupat Lebaran tepatnya di masa syiar Islamnya pada abad ke 15 hingga abad ke 16. Sunan Kalijaga menjadikan ketupat sebagai budaya sekaligus filosofi jawa yang berbaur dengan nilai ke-Islamannya.

Sebenarnya ketupat bisa jadi berasal dari zaman yang lebih lama, yakni pada zaman Hindu-Budha di Nusantara. Hal itu merujuk pada zaman pra Islam. Nyiur dan beras sudah dimanfaatkan untuk makanan oleh masyarakat sebagai sumber daya alam. Begitupun masyarakat Bali. Hingga saat ini ketupat atau disebut masyarakat Bali sebagai tipat, masih digunakan untuk ritual ibadah. Ketupat tak hanya menjadi identutas di Indonesia, melainkan di Asia Tenggara.

Kata “ketupat” atau “kupat” berasal dari istilah bahasa Jawa yaitu “ngaku lepat” (Mengakui Kesalahan) dan laku papat (empat tindakan). Biasanya, prosesi ini dilakukan dengan acara sungkeman anak ke orang tua. Dengan sungkeman tersebut, menandakan permohonan maaf anak dan bukti menghormati orang tua.

Tak hanya itu, pengakuan kesalahan juga dilakukan memohon maaf kepada tetangga, kerabat dan keluarga terdekat. Ketupat menjadi simbol mengiklaskan dan memaafkan. Jika berkunjung, maka akan dibukakan ketupat sebagai simbol pembukaan maaf.

( src : TRB / M )

 

 

Social Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Reader's opinions

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Current track

Title

Artist

Background