KASUS STUNTING GANGGU PERKEMBANGAN PRODUKTIVITAS USIA PRODUKTIF, BAGAIMANA SOLUSINYA?

MTBFM.CO.ID – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan Indonesia sebagai negara ketiga dengan kasus stunting ( gagal tumbuh ) tertinggi di Asia. Anak yang stunting (gagal tumbuh) bukan hanya terganggu pertumbuhan fisiknya, melainkan juga terganggu perkembangan otaknya, yang akan sangat mempengaruhi kemampuan dan prestasi di sekolah, serta produktivitas dan kreativitas di usia-usia produktif.

Tahun 2020, diprediksi jumlah kelahiran sebanyak 4,7 Juta. Namun dengan adanya pandemi, persoalan pada pelayanan berpotensi terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan akan meningkat.

Dr. (H.C.) dr. Hasto Wardoyo, SpOG (K) Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), (13/10) mengatakan, sebetulnya dilingkungan kita banyak mereka yang tidak ingin hamil tetapi belum menggunakan alat kontrasepsi.

“Kalau di Indonesia ada sekitar 4,7 juta perempuan sampai 5 juta perempuan per tahun yang melahirkan. Setiap 500 ribu ada sekitar 5 ribu yang hamil, sehingga kalau 4 juta ada sekitar 40 ribu mungkin yang hamil dan melahirkan setiap tahunnya”, ungkapnya.

Ini menjadi sesuatu yang sangat luar biasa untuk dapat membantu mereka agar kemudian menjaga jarak kehamilan dan persalinan. Mereka yang pengaturan jaraknya (spacing) bagus lebih dari 3 tahun terbukti tidak stunting.

Peran BKKBN dalam penurunan stunting salah satunya adalah Program Pengendalian jarak dan jumlah kelahiran dengan KB Pasca Persalinan. Dalam hal ini ada kontrasepsi IUD yang mempunyai tiga keuntungan ketika dipasang setelah melahirkan.

Hasto menegaskan pentingya gerakan pelayanan IUD paska persalinan oleh Bidan/Dokter tetap memperhatikan protokol pencegahan Covid.

 

( Humas BKKBN )

 

 

 

What's your reaction?
0cool0bad0lol0sad

Add Your Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copyright © 2012 –  2024. All rights reserved.